Pulau Penyengat dari Batam: Cara ke Sana dan Situs Sejarah yang Bisa Dilihat

Intinya
- Pulau Penyengat di Tanjungpinang ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional (KepMendikbud 112/M/2018), mencakup sekitar 91 hektare dan 46 objek.
- Pulau Penyengat berukuran sekitar 2.500 × 750 meter.
- Dari Batam, feri dari Pelabuhan Telaga Punggur ke Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang memakan waktu sekitar 1 jam.
- Dari Tanjungpinang ke Pulau Penyengat naik perahu pompong kurang dari 15 menit.
- Bahan perekat bangunan Masjid Raya Sultan Riau memakai campuran putih telur, kapur, dan tanah liat.
Pulau Penyengat dapat dicapai dari Batam dengan dua kali perjalanan. Dari Pelabuhan Telaga Punggur di Batam, feri menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang memakan waktu sekitar satu jam. Dari Tanjungpinang, perahu pompong membawa penumpang ke Penyengat dalam waktu kurang dari 15 menit. Pulau kecil ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional, dan di sana berdiri Masjid Raya Sultan Riau, serta makam Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji.
Bagi warga Batam, Penyengat menjadi tujuan wisata sejarah yang mudah dijangkau dalam sehari. Tulisan ini merangkum cara berangkat dari Batam, daftar situs yang bisa dilihat, serta etika berkunjung ke tempat ibadah dan makam.
Cara ke Pulau Penyengat dari Batam
Perjalanan ke Penyengat terdiri dari dua tahap. Berikut urutannya:
- Menuju Pelabuhan Telaga Punggur di Batam.
- Naik feri menuju Pelabuhan Sri Bintan Pura di Tanjungpinang. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam.
- Setibanya di Tanjungpinang, lanjutkan dengan perahu pompong menuju Pulau Penyengat. Waktu tempuhnya kurang dari 15 menit.
Tarif dan jadwal feri maupun perahu pompong tidak tercantum dalam sumber yang tersedia untuk artikel ini, sehingga pembaca dianjurkan memastikan informasi terbaru langsung di loket pelabuhan sebelum berangkat. Mengecek jadwal sejak awal membantu merencanakan waktu kembali, terutama bagi pengunjung yang berencana menjelajah beberapa situs dalam satu hari.
Dari sisi ukuran, Pulau Penyengat berukuran sekitar 2.500 × 750 meter. Jarak tersebut tergolong ringkas untuk dijelajahi dengan berjalan kaki. Kawasan cagar budayanya mencakup sekitar 91 hektare dengan 46 objek, sesuai penetapan melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 112/M/2018.
Situs Sejarah di Pulau Penyengat
Masjid Raya Sultan Riau. Masjid ini menjadi ikon paling dikenal di Penyengat. Masjid pertama dibangun sekitar tahun 1803, lalu dibangun ulang dalam bentuknya yang sekarang pada masa Raja Abdurrahman, yakni tahun 1832 hingga 1844. Perlu dicatat bahwa sumber-sumber berbeda dalam menyebut tahun pastinya, sehingga pembaca sebaiknya membandingkan beberapa referensi jika membutuhkan kepastian tanggal. Bangunannya memiliki kubah dan menara berjumlah 17 buah, yang dikaitkan dengan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari. Bahan perekat bangunannya memakai campuran putih telur, kapur, dan tanah liat, sebuah teknik tradisional yang membuat masjid ini menarik untuk dipelajari dari dekat.
Makam Raja Ali Haji. Makam penulis Gurindam Dua Belas ini berada di Pulau Penyengat. Raja Ali Haji ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004. Bait-bait Gurindam Dua Belas terpahat di dinding kompleks makamnya, sehingga pengunjung dapat membaca karya sastra tersebut langsung di lokasi.
Makam Raja Haji Fisabilillah. Kompleks makam Raja Haji Fisabilillah juga ada di Pulau Penyengat. Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1997. Kompleks ini menjadi salah satu titik penting untuk memahami peran Penyengat dalam sejarah Kepulauan Riau.
Makam Engku Puteri Hamidah. Di pulau yang sama terdapat kompleks makam Engku Puteri Hamidah. Beliau adalah putri Raja Haji Fisabilillah sekaligus permaisuri Sultan Mahmud. Keterkaitan keluarga ini membuat makam-makam di Penyengat saling terhubung dalam satu rangkaian cerita sejarah.
Istana Kantor. Bangunan ini merupakan bekas istana Raja Ali, Yang Dipertuan Muda Riau yang memerintah pada 1844 hingga 1857. Lokasinya sekitar 150 meter di sebelah barat Masjid Raya Sultan Riau, sehingga pengunjung dapat menjangkaunya dalam satu rute jalan kaki.
Benteng Bukit Kursi. Benteng ini memiliki meriam yang menghadap ke laut. Dari posisi benteng, pengunjung dapat membayangkan bagaimana Penyengat dipertahankan pada masanya, sekaligus menikmati pemandangan pesisir pulau.
Balai Adat. Balai Adat di Pulau Penyengat berbentuk replika rumah panggung Melayu. Bangunan ini memberi gambaran tentang arsitektur rumah tradisional Melayu yang berdiri di atas tiang, berbeda dengan bangunan batu dan kapur yang banyak ditemui di kompleks lain di pulau ini.
Untuk pengunjung yang datang pada waktu tertentu, perlu diketahui bahwa Penyengat Heritage Fest digelar pada 12 hingga 14 September 2025. Acara tahunan semacam ini biasanya memperkaya kunjungan karena menghadirkan kegiatan budaya di kawasan situs. Pembaca disarankan memantau informasi resmi penyelenggara menjelang tanggal tersebut.
Etika Berkunjung ke Masjid dan Makam
Masjid Raya Sultan Riau dan kompleks makam merupakan tempat yang dihormati oleh masyarakat setempat. Beberapa hal sederhana perlu diperhatikan agar kunjungan tetap nyaman bagi semua pihak:
- Berpakaian sopan saat memasuki area masjid dan makam, dengan menutup bagian tubuh yang biasanya diwajibkan dalam adat setempat.
- Melepas alas kaki di area masjid sesuai ketentuan yang berlaku di lokasi.
- Menjaga suara tetap pelan, terutama saat ada jamaah yang beribadah atau peziarah yang berdoa.
- Tidak memanjat, menyentuh, atau merusak pahatan dan dinding bersejarah, termasuk bagian bait Gurindam Dua Belas di kompleks makam Raja Ali Haji.
- Memotret dengan tetap menghormati peziarah lain dan tidak mengambil gambar pada saat prosesi ibadah berlangsung.
- Membuang sampah pada tempat yang tersedia agar kawasan cagar budaya tetap terjaga.
Sikap sopan semacam ini bukan sekadar aturan, melainkan bentuk penghormatan kepada sejarah dan tradisi yang masih dijaga hingga kini.
Wisata Lain di Batam
Penyengat merupakan satu pilihan dari beragam destinasi yang tersedia. Bagi warga dan wisatawan yang berada di Batam, pilihan lain cukup banyak. Untuk wisata pantai, pembaca dapat mempertimbangkan Pantai Nongsa, Pantai Marina, atau Nuvasa Bay. Untuk wisata alam, tersedia Panbil Nature Reserve dan Bukit Senyum. Wisatawan yang menyukai laut dan pulau-pulau kecil dapat melihat Pulau Abang, Pulau Mubud, Pulau Ranoh, serta Kepri Coral Batam. Dari sisi budaya dan religi, Maha Vihara Duta Maitreya menjadi salah satu tujuan yang sering disebut. Jembatan Barelang juga menjadi bagian dari pengalaman wisata di kota ini.
Untuk hiburan keluarga dan rekreasi, pembaca dapat menjajaki Ocarina Batam Theme Park serta Ocarina Park. Sementara itu, bagi yang menyukai belanja dan kuliner, tersedia Batam City Square, Golden City Batam, dan Nagoya Hill Shopping Mall.
Artikel ini hanya membahas situs di Pulau Penyengat. Pembaca yang mencari aktivitas malam di Batam perlu merencanakan kunjungan secara terpisah, karena topik tersebut berada di luar cakupan tulisan ini.
Batam adalah kota di Provinsi Kepulauan Riau yang posisinya strategis, berdekatan dengan Singapura. Letak ini menjadikan Batam sebagai pintu masuk bagi banyak pelancong dari dalam dan luar negeri, sekaligus pusat aktivitas ekonomi dengan kawasan Free Trade Zone. Kedekatan dengan Tanjungpinang membuat wisata sejarah di Penyengat mudah dijangkau dari Batam, sehingga cocok dimasukkan dalam rencana perjalanan singkat.
Bagi pembaca yang ingin mengenal tokoh-tokoh yang dimakamkan di Penyengat, tersedia ulasan lengkap di halaman pahlawan nasional dari Kepulauan Riau dan jejaknya di Batam.
Baca juga seri Info Kota: Tari Zapin dan tarian tradisional Kepri · Rumah adat Kepulauan Riau
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa wisata di Batam? Batam memiliki beragam pilihan, mulai dari pantai seperti Pantai Nongsa dan Pantai Marina, wisata alam di Panbil Nature Reserve dan Bukit Senyum, hingga pulau-pulau kecil seperti Pulau Abang, Pulau Mubud, dan Pulau Ranoh.
Apa saja wisata Batam? Selain pantai dan pulau, wisatawan dapat mengunjungi Jembatan Barelang, Maha Vihara Duta Maitreya, Ocarina Batam Theme Park, Ocarina Park, serta pusat belanja seperti Batam City Square, Golden City Batam, dan Nagoya Hill Shopping Mall.
Bagaimana cara ke Pulau Penyengat dari Batam? Naik feri dari Pelabuhan Telaga Punggur ke Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang selama sekitar satu jam, lalu lanjutkan dengan perahu pompong kurang dari 15 menit. Tarif dan jadwal sebaiknya dicek langsung di loket.
Situs apa saja yang bisa dilihat di Penyengat? Masjid Raya Sultan Riau, makam Raja Ali Haji, makam Raja Haji Fisabilillah, makam Engku Puteri Hamidah, Istana Kantor, Benteng Bukit Kursi, dan Balai Adat.
Mengapa Penyengat dikenal sebagai kawasan cagar budaya? Pulau ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 112/M/2018, dengan luas sekitar 91 hektare dan 46 objek.
Pulau Penyengat menawarkan perpaduan sejarah, sastra, dan arsitektur Melayu yang dapat dijelajahi dalam satu perjalanan singkat dari Batam. Masjid Raya Sultan Riau, makam para tokoh nasional, serta Istana Kantor dan Benteng Bukit Kursi menjadi titik utama. Sebelum berangkat, pengunjung sebaiknya memastikan tarif dan jadwal terbaru di pelabuhan, serta menjaga etika saat memasuki area ibadah dan makam.
