Monday, 1 June 2026 · WIB Terkini: Luti Gendang: Roti Goreng Tradisional Melayu Batam

Kuliner

Luti Gendang: Roti Goreng Tradisional Melayu Batam

Reporter: Nadia Putri Editor: Redaksi Batam Hari Ini 5 menit baca
Luti Gendang: Roti Goreng Tradisional Melayu Batam
Ilustrasi · Foto: Pexels (CC0)

Di antara deretan kuliner Melayu yang masih bertahan di Kota Batam, luti gendang barangkali termasuk yang paling sederhana sekaligus paling akrab di lidah warga. Roti goreng berisi tuna suwir berbumbu ini kerap dijumpai di warung-warung pagi, gerai UMKM pinggir jalan, hingga acara kenduri dan hajatan. Rasanya yang gurih-pedas dengan tekstur kulit roti yang renyah di luar namun lembut di dalam menjadikannya pilihan camilan maupun sarapan yang mengenyangkan tanpa perlu merogoh kocek dalam. Baca juga: Pulau Galang: Jejak Sejarah Pengungsi Vietnam di Kepulauan Riau.

Bagi masyarakat Melayu Kepulauan Riau, luti gendang bukan sekadar jajanan. Ia adalah bagian dari warisan kuliner yang merekam jejak budaya pesisir — tempat hasil laut diolah menjadi hidangan praktis yang bisa dinikmati kapan saja. Di tengah gempuran makanan kekinian, keberadaan luti gendang justru menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih punya tempat di hati warga Batam.

Asal-Usul Nama dan Tradisi Melayu

Nama “luti gendang” dipercaya berasal dari kosakata Melayu lokal. “Luti” merujuk pada roti atau adonan tepung, sementara “gendang” dikaitkan dengan bentuknya yang menggembung menyerupai gendang kecil setelah digoreng. Penamaan yang sederhana ini mencerminkan karakter kuliner Melayu pesisir yang lugas — makanan dinamai berdasarkan rupa atau cara pembuatannya.

Dalam tradisi masyarakat Melayu Kepri, luti gendang sudah dikenal turun-temurun. Hidangan ini lazim disajikan saat acara keluarga, kenduri, maupun sebagai bekal melaut. Isian tuna suwir berbumbu menjadi pilihan logis mengingat melimpahnya hasil tangkapan ikan di perairan Kepulauan Riau. Bumbu rempah seperti cabai, bawang, dan kunyit yang meresap ke dalam suwiran tuna memberikan cita rasa khas yang membedakannya dari roti goreng isi pada umumnya.

Proses Pembuatan yang Tetap Tradisional

Pembuatan luti gendang pada dasarnya tidak rumit, namun membutuhkan ketelatenan. Adonan kulit dibuat dari tepung terigu, sedikit gula, ragi, dan santan — kombinasi yang menghasilkan tekstur lembut dengan aroma khas kelapa. Adonan dibiarkan mengembang sebelum dibagi menjadi bulatan-bulatan kecil yang siap diisi.

Isian utamanya adalah tuna suwir yang ditumis bersama bumbu halus — biasanya campuran bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, dan sedikit kunyit. Beberapa pembuat menambahkan daun kunyit atau serai untuk memperkaya aroma. Tuna suwir yang sudah matang dan berbumbu kemudian dibungkus rapat dengan adonan, dibentuk menyerupai gendang kecil, lalu digoreng dalam minyak panas hingga kecokelatan. Konteks lainnya: Gonggong: Kuliner Laut Khas Kepulauan Riau yang Wajib Dicoba di Batam.

Hasil akhirnya adalah roti goreng dengan kulit yang renyah di lapisan luar namun tetap empuk di bagian dalam, dengan isian tuna pedas yang gurih dan harum. Kombinasi tekstur dan rasa inilah yang membuat luti gendang cocok dinikmati sebagai camilan sore maupun menu sarapan pagi.

Luti Gendang dalam Ekosistem UMKM Batam

Kota Batam — yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau dan berada di posisi strategis dekat Singapura — memiliki dinamika ekonomi yang unik. Statusnya sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone) menjadikan kota ini magnet bagi pekerja dari berbagai daerah. Keragaman penduduk ini turut memengaruhi lanskap kuliner lokal, namun justru membuka peluang bagi makanan tradisional Melayu untuk diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

Luti gendang kini menjadi salah satu produk andalan pelaku UMKM kuliner di Batam. Banyak ibu rumah tangga dan pengusaha kecil yang menjadikan pembuatan luti gendang sebagai sumber penghasilan. Modal produksinya relatif terjangkau, bahan bakunya mudah didapat, dan permintaan pasar cukup stabil — terutama menjelang akhir pekan atau musim acara hajatan.

Dinas Koperasi dan UMKM Kota Batam mencatat bahwa produk kuliner tradisional seperti luti gendang termasuk komoditas yang rutin ditampilkan dalam pameran dan bazar UMKM. Hal ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Batam dalam mendorong pelestarian kuliner lokal sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Camilan Sekaligus Sarapan Warga

Salah satu keunggulan luti gendang adalah fleksibilitasnya. Ia bisa berfungsi sebagai camilan ringan di sela aktivitas, tetapi juga cukup mengenyangkan untuk dijadikan menu sarapan. Di banyak warung kopi dan kedai pagi di Batam, luti gendang disajikan berdampingan dengan teh tarik atau kopi — kombinasi yang sudah menjadi kebiasaan banyak warga. Baca juga: Sop Ikan Batam: Bening, Segar, Pengaruh Singapura yang Kental.

Harganya yang terjangkau menjadikan luti gendang pilihan demokratis. Dari pekerja pabrik yang membutuhkan sarapan cepat sebelum shift pagi, hingga anak-anak sekolah yang mencari jajanan sepulang belajar, luti gendang melayani berbagai segmen tanpa membeda-bedakan. Inilah karakter kuliner rakyat yang sesungguhnya — hadir untuk semua kalangan.

Menjaga Warisan di Tengah Arus Modernisasi

Badan Pusat Statistik Kota Batam mencatat pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa yang terus meningkat seiring perkembangan kota. Konsekuensinya, pilihan kuliner modern — dari waralaba hingga makanan daring — semakin mudah diakses warga. Dalam situasi ini, kuliner tradisional seperti luti gendang menghadapi tantangan untuk tetap relevan.

Namun justru di sinilah peran komunitas dan pelaku UMKM menjadi krusial. Dengan tetap menjaga kualitas rasa, mengemas produk secara higienis, dan memanfaatkan platform digital untuk pemasaran, luti gendang tidak hanya bertahan tetapi juga menjangkau konsumen baru. Beberapa pelaku usaha bahkan mulai menerima pesanan daring dan melayani pengiriman ke berbagai kecamatan di Batam.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sendiri telah memasukkan luti gendang dalam inventarisasi kuliner khas daerah. Pengakuan ini penting sebagai langkah awal pelestarian — memastikan bahwa generasi mendatang masih mengenal dan bisa menikmati warisan rasa dari leluhur Melayu mereka.


Luti gendang adalah bukti bahwa kuliner tradisional tidak perlu megah untuk bermakna. Roti goreng berisi tuna suwir berbumbu ini merangkum banyak hal sekaligus — kearifan lokal dalam mengolah hasil laut, kesederhanaan yang justru menjadi kekuatan, dan daya tahan budaya kuliner Melayu di tengah perubahan zaman. Selama masih ada tangan-tangan yang tekun menguleni adonan dan menyuwir tuna di pagi buta, luti gendang akan tetap menjadi bagian dari identitas kuliner Kota Batam.

Artikel ini disusun redaksi Batam Hari Ini. Punya kabar, koreksi, atau usul liputan? Hubungi redaksi.