Minggu, 11 Oktober 2026 Maghrib 17:5727°C Berawan sebagian 1 SGD = Rp13.965

Info Kota

Tari Zapin dan Tarian Tradisional Kepulauan Riau: Asal, Gerak, dan Musiknya

Reporter: Redaksi BATAM.co.id Editor: Redaksi BATAM.co.id Terbit 6 menit baca
Tari Zapin dan Tarian Tradisional Kepulauan Riau: Asal, Gerak, dan Musiknya
Ilustrasi · Foto: Shutterstock

Sekilas info

  • Zapin Penyengat dulu hanya ditarikan laki-laki (4–8 penari) sampai sekitar 1970, lalu juga ditarikan berpasangan.
  • Gerak Alif bermakna memuliakan Allah lebih dulu, lalu penonton.
  • Musik Zapin Penyengat memakai gambus, marwas, akordeon, biola, dan gendang bebano (ISI Surakarta, 2024).
  • Jogi berakar dari Joget Dangkong, ditarikan di pesta pernikahan, dan dilestarikan Sanggar Warisan Pantai Basri di Pulau Panjang, Bulang, Batam.
  • Joget Dangkong ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2015; awalnya hiburan keliling kampung nelayan, dengan pusat catatan di Moro, Karimun.

Tari Zapin adalah tari Melayu yang bernapaskan Islam dan diiringi gambus serta marwas. Di Kepulauan Riau (Kepri), bentuk yang paling dikenal adalah Zapin Penyengat, yang berakar di Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Selain Zapin Penyengat, sejumlah tarian dan seni pertunjukan Kepri juga tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia, di antaranya Makyong, Joget Dangkong, dan Tari Inai. Joget Dangkong kemudian melahirkan Jogi, yang kini dikenal sebagai bagian dari khazanah budaya Kota Batam.

Bagi warga Batam, keberagaman tarian ini mudah dirasakan. Kota ini berada di Provinsi Kepulauan Riau, dengan posisi strategis yang berdekatan dengan Singapura dan kerap dilalui arus orang serta barang antarnegara. Di tengah dinamika kota pelabuhan seperti itu, tradisi lisan dan gerak yang dibawa para nelayan, pedagang, dan pendatang dari berbagai daerah tetap hidup di kampung-kampung pesisir dan di sanggar-sanggar kecil.

Artikel ini membahas asal-usul dan gerak Zapin Penyengat, lalu memaparkan sejumlah tarian tradisional lain di Kepri beserta status penetapannya. Bagian akhir membahas rencana nominasi bersama Zapin ke UNESCO yang sedang berjalan.

Asal dan Perkembangan Zapin Penyengat

Zapin Penyengat dikaitkan dengan figur bernama Encik Muhammad Ripin. Menurut kajian Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 2023, Encik Muhammad Ripin membawa tarian ini dari Sambas sekitar tahun 1919. Tarian tersebut kemudian disebarkan bersama Raja Ahmad bin Raja Daud serta Said Husin Al Attas. Perlu dicatat bahwa tahun asal Zapin Penyengat tidak seragam di seluruh sumber. Sejumlah rujukan menyebut tahun yang berbeda, sehingga pembaca sebaiknya memandang angka 1919 sebagai rujukan dari kajian tertentu, bukan kepastian tunggal yang disepakati semua pihak.

Pada masa awalnya, Zapin Penyengat ditarikan oleh penari laki-laki dengan jumlah 4 hingga 8 orang. Pola ini bertahan sampai sekitar tahun 1970. Setelah periode itu, tarian ini juga mulai ditarikan secara berpasangan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa bentuk pertunjukan Zapin tidak statis, melainkan menyesuaikan diri dengan kebutuhan panggung dan pergaulan masyarakat.

Penetapan Zapin Penyengat sebagai bagian dari khazanah nasional juga menjadi penanda penting. Menurut pemberitaan Antara tahun 2023, Zapin Penyengat di Tanjungpinang dan Jogi di Kota Batam termasuk lima karya budaya Kepri yang ditetapkan sebagai WBTB Indonesia pada sidang Agustus 2023. Penetapan ini membuat dua tarian dari Kepri tersebut tercatat secara resmi dalam daftar warisan budaya nasional.

Sepuluh Ragam Gerak, Musik, dan Busana

Zapin Penyengat memiliki sepuluh ragam gerak yang dikenal luas dalam pertunjukan. Berikut daftarnya:

  1. Takzim
  2. Alif langkah satu
  3. Langkah dua
  4. Langkah kotai
  5. Titi batang
  6. Pusar belanak
  7. Ayak-ayak
  8. Loncat tiung
  9. Gelombang dua belas
  10. Tahto

Di antara ragam tersebut, gerak Alif memiliki makna khusus. Gerak ini dimaknai sebagai bentuk memuliakan Allah terlebih dahulu, kemudian menghormati penonton. Makna itu sejalan dengan karakter Zapin sebagai tari Melayu yang bernapaskan Islam, sebagaimana tampak dari urutan gerak yang diawali dengan Takzim, yakni sikap hormat.

Dari sisi musik, Zapin Penyengat memakai gambus, marwas, akordeon, biola, dan gendang bebano. Informasi instrumentasi ini tercantum dalam kajian ISI Surakarta tahun 2024. Kombinasi alat tersebut memperlihatkan pertemuan tradisi Melayu dengan unsur musik yang masuk kemudian, seperti akordeon dan biola. Pembaca yang ingin mengenal lebih jauh karakter tiap instrumen dapat membuka halaman alat musik tradisional Kepulauan Riau. Baca juga: Pahlawan Nasional dari Kepulauan Riau dan Jejaknya di Batam.

Mengenai busana, data rujukan redaksi belum memuat ketentuan khusus busana penari Zapin Penyengat. Untuk gambaran busana Melayu yang lazim dikenakan dalam berbagai acara adat dan budaya di Kepri, pembaca dapat melihat halaman baju adat Melayu Kepri, teluk belanga dan kebaya labuh.

Tarian Tradisional Kepulauan Riau dalam Tabel dan Jogi di Batam

Selain Zapin, Kepri memiliki sejumlah tarian dan seni pertunjukan yang tercatat sebagai WBTB. Tabel berikut merangkum asal atau daerah serta tahun penetapannya, sesuai data yang tersedia:

TarianAsal/daerahStatus WBTB (tahun)
Zapin PenyengatPulau Penyengat, TanjungpinangWBTB Indonesia (2023)
JogiKota BatamWBTB Indonesia (2023)
Joget DangkongMoro (Karimun), menyebar ke Batam, Dompak, Mantang, Lingga, dan pulau lainWBTB (2015)
MakyongPatani, Kelantan, lalu Bintan dan Batam; lokasi di Kepri antara lain Mantang Arang, Kijang, Rempang/Sembulang, dan DompakWBTB (2013)
Tari InaiKepulauan RiauWBTB (2017)

Jogi merupakan salah satu tarian yang paling dekat dengan kehidupan warga Batam. Tarian ini berakar dari Joget Dangkong, yaitu tarian yang biasa ditampilkan dalam pesta pernikahan. Pelestarian Jogi di Batam antara lain dilakukan oleh Sanggar Warisan Pantai Basri di Pulau Panjang, Bulang, Batam.

Joget Dangkong sendiri memiliki riwayat yang panjang. Pada awalnya, tarian ini menjadi hiburan yang berkeliling dari kampung ke kampung nelayan. Catatan tentang pusat perkembangannya tersimpan di Moro, Karimun. Nama dangkong berasal dari bunyi gendang (dang) dan gong (kung). Antara tahun 1913 dan 1963, Joget Dangkong menyebar ke Batam, Dompak, Moro, Mantang, Lingga, dan pulau-pulau lain di sekitarnya. Penetapan Joget Dangkong sebagai WBTB dilakukan pada 2015.

Makyong juga memiliki jejak perpindahan yang menarik. Seni pertunjukan ini berasal dari Patani, lalu berkembang di Kelantan, sebelum sampai ke Bintan dan Batam. Makyong dimainkan oleh sedikitnya 15 pemain dengan iringan rebab dan gendang. Penetapannya sebagai WBTB terjadi pada 2013.

Tari Inai Kepri, yang ditetapkan sebagai WBTB pada 2017, menggambarkan rangkaian kegiatan dalam proses persiapan inai untuk Mak Andam. Gerak-geraknya meniru aktivitas menanam, memetik, mencuci, menggiling, dan menata inai. Tarian ini diiringi dua gendang dan satu gong.

Kedudukan Batam dalam peta warisan budaya juga tercatat dalam data penetapan. Pada 2021, Kota Batam mencatatkan 14 warisan budaya takbenda lokal, antara lain makyong, jogi, gasing, mandi safar, jong, kolek, sampan layar, dan musik dangkong, sebagaimana dilaporkan Republika pada 2021. Angka ini menunjukkan bahwa Batam memiliki beragam tradisi yang tidak hanya hidup di pusat kota, tetapi juga di kampung-kampung pesisir dan pulau-pulau sekitarnya.

Rencana Nominasi Zapin ke UNESCO

Zapin tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga bagian dari tradisi bersama di kawasan Melayu. Pada September 2026, Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura mengumumkan nominasi bersama Zapin ke UNESCO. Berkas nominasi dijadwalkan diajukan pada Maret 2027, sebagaimana diberitakan RRI. Lihat juga Profil Kota Batam: Luas Wilayah, Jumlah Pulau, Kecamatan, dan Penduduk untuk gambaran lebih luas.

Status ini masih berupa rencana yang sedang berjalan. Penetapan akhir oleh UNESCO bergantung pada proses penyusunan berkas dan evaluasi yang menyertainya. Bagi masyarakat Kepri, khususnya Tanjungpinang dan Batam, proses ini menjadi momentum untuk kembali mengenalkan Zapin, Jogi, dan tarian Melayu lain kepada generasi muda.

Di Kepri, salah satu wadah pengenalan Zapin yang rutin adalah Festival Pulau Penyengat di Tanjungpinang. Festival yang digelar setiap tahun ini menampilkan lomba kompang, sehingga pengunjung dapat menyaksikan langsung kekayaan seni Melayu dalam satu rangkaian acara.

Zapin Penyengat, Jogi, Joget Dangkong, Makyong, dan Tari Inai memperlihatkan bahwa Kepulauan Riau menyimpan tradisi pertunjukan yang beragam. Setiap tarian membawa jejak perpindahan, pertemuan budaya, dan kehidupan masyarakat pesisir. Dengan pencatatan WBTB dan rencana nominasi internasional, tradisi-tradisi ini memiliki peluang untuk dikenal lebih luas, sembari tetap dijaga oleh sanggar, komunitas, dan generasi penerus di daerah asalnya.

Baca juga seri Info Kota: Alat musik tradisional Kepri · Rumah adat Kepulauan Riau

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu tari Zapin? Zapin adalah tari Melayu yang bernapaskan Islam dan diiringi gambus serta marwas.

Apa yang membedakan Zapin Penyengat? Zapin Penyengat merupakan bentuk Zapin yang berkembang di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Tarian ini memiliki sepuluh ragam gerak, yaitu Takzim, Alif langkah satu, langkah dua, langkah kotai, titi batang, pusar belanak, ayak-ayak, loncat tiung, gelombang dua belas, dan Tahto.

Kapan Zapin Penyengat mulai dikenal? Kajian UNP tahun 2023 menyebut sekitar 1919, ketika Encik Muhammad Ripin membawanya dari Sambas. Namun, sejumlah sumber menyebut tahun yang berbeda, sehingga tahun tersebut belum dapat dianggap tunggal.

Apa saja alat musik Zapin Penyengat? Musik Zapin Penyengat memakai gambus, marwas, akordeon, biola, dan gendang bebano, menurut kajian ISI Surakarta tahun 2024.

Apa hubungan Jogi dengan Joget Dangkong? Jogi berakar dari Joget Dangkong yang ditarikan dalam pesta pernikahan. Jogi kini dilestarikan antara lain oleh Sanggar Warisan Pantai Basri di Pulau Panjang, Bulang, Batam.

Apakah Zapin sudah resmi diajukan ke UNESCO? Belum. Pada September 2026, Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura mengumumkan rencana nominasi bersama, dengan berkas yang dijadwalkan diajukan pada Maret 2027.

Artikel ini disusun redaksi BATAM.co.id. Punya kabar, koreksi, atau usul liputan? Hubungi redaksi.