Minggu, 11 Oktober 2026 Maghrib 17:5727°C Berawan sebagian 1 SGD = Rp13.965

Info Kota

Siapa Hang Nadim? Laksamana Melayu di Balik Nama Bandara Batam

Reporter: Redaksi BATAM.co.id Editor: Redaksi BATAM.co.id Terbit 6 menit baca
Siapa Hang Nadim? Laksamana Melayu di Balik Nama Bandara Batam
Ilustrasi · Foto: Pexels

Fakta kunci

  • Hang Nadim adalah laksamana Kesultanan Melaka pada masa Sultan Mahmud Shah.
  • Hang Nadim memimpin perlawanan terhadap Portugis setelah Melaka jatuh pada 1511, dari pangkalan di Bintan, sampai sekitar 1526.
  • Kisah Hang Nadim tercatat dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), sebagian berupa cerita rakyat.
  • Hang Nadim bukan Pahlawan Nasional Indonesia; namanya tidak ada dalam daftar penerima gelar dari Sekretariat Negara.
  • Bandara di Batam diberi nama Hang Nadim atas pilihan BJ Habibie saat memimpin Otorita Batam.

Siapa Hang Nadim? Laksamana Melayu di Balik Nama Bandara Batam

Hang Nadim adalah laksamana Kesultanan Melaka pada masa Sultan Mahmud Shah. Ia memimpin perlawanan terhadap Portugis setelah Melaka jatuh pada 1511, dari pangkalan di Bintan, hingga sekitar 1526. Kisahnya tercatat sebagian sebagai sejarah dan sebagian lagi sebagai cerita dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin). Namanya kini dikenal luas di Batam karena dipakai untuk Bandara Hang Nadim Batam. Perlu ditegaskan bahwa Hang Nadim bukan Pahlawan Nasional Indonesia, dan namanya tidak tercantum dalam daftar penerima gelar dari Sekretariat Negara.

Bagi warga Batam, nama Hang Nadim hadir hampir setiap hari, di papan informasi bandara, di dokumen perjalanan, dan dalam percakapan sehari-hari. Namun tidak banyak yang mengetahui siapa sosok di balik nama itu, bagaimana kisahnya sampai ke generasi sekarang, dan mengapa ia juga muncul dalam simbol resmi kota. Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan memisahkan apa yang tercatat sebagai sejarah dan apa yang hidup sebagai cerita.

Batam adalah kota di Provinsi Kepulauan Riau. Posisinya yang berdekatan dengan Singapura membuat kota ini sejak lama menjadi simpul lalu lintas laut dan udara di kawasan Selat Malaka. Sebagian wilayahnya ditetapkan sebagai kawasan Free Trade Zone, yang membuat Batam punya karakter ekonomi dan sejarah pembangunan yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Dalam konteks inilah nama-nama dari masa lalu Melayu, termasuk Hang Nadim, kembali mendapat tempat di ruang publik kota.

Yang tercatat sejarah

Bagian yang dapat dipegang sebagai sejarah adalah kerangka besarnya. Hang Nadim hidup dan berkarya pada masa Kesultanan Melaka, kerajaan Melayu yang pada abad ke-15 hingga awal abad ke-16 menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan di Selat Malaka. Ia bertugas sebagai laksamana, pemimpin kekuatan laut kesultanan, pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Shah.

Peristiwa penting dalam hidupnya berkaitan dengan jatuhnya Melaka ke tangan Portugis pada 1511. Setelah kota itu dikuasai, Hang Nadim tidak menyerah. Ia memimpin perlawanan dari pangkalan di Bintan, wilayah kepulauan di selatan Singapura yang menjadi basis perlawanan bagi sisa-sisa kekuatan Melayu. Perlawanan ini berlangsung sampai sekitar 1526. Rentang lima belas tahun tersebut menunjukkan bahwa perlawanan Melayu terhadap Portugis tidak berhenti seketika setelah kejatuhan Melaka.

Keterangan mengenai peran Hang Nadim ini dapat ditelusuri dalam Sejarah Melayu, sebuah karya yang juga dikenal dengan nama Sulalatus Salatin. Karya tersebut menjadi rujukan utama tentang sejarah dan adat istiadat Kesultanan Melaka. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa Sejarah Melayu adalah karya sastra-sejarah. Ia memuat catatan peristiwa, tetapi juga unsur kisah yang disusun dengan gaya penceritaan, sehingga tidak seluruh isinya dapat dibaca sebagai laporan kronologis yang rinci.

Yang berupa cerita dan legenda

Sebagian kisah Hang Nadim hidup sebagai cerita rakyat. Bentuk ini berbeda dengan catatan sejarah. Cerita rakyat diwariskan dari mulut ke mulut dan dituliskan kembali dengan tambahan tokoh, dialog, dan peristiwa yang berfungsi memperkuat pesan moral atau kebanggaan sebuah masyarakat. Dalam tradisi Melayu, tokoh seperti Hang Nadim sering digambarkan sebagai figur yang cerdik, berani, dan setia kepada raja. Topik terkait: Pahlawan Nasional dari Kepulauan Riau dan Jejaknya di Batam.

Karena sifatnya sebagai cerita, unsur-unsur dalam versi legenda tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah. Pembaca sebaiknya memisahkan kedua lapisan ini. Ketika sebuah kisah menyebut peristiwa yang sulit diverifikasi dari sumber lain, kisah itu paling tepat dibaca sebagai bagian dari tradisi lisan dan sastra Melayu, bukan sebagai catatan kejadian yang pasti.

Pemisahan ini penting juga untuk memahami status Hang Nadim hari ini. Ketenarannya di Batam dan di kalangan masyarakat Melayu sebagian besar lahir dari kisah yang diwariskan turun-temurun. Namun dalam hal pengakuan negara, Hang Nadim bukan Pahlawan Nasional Indonesia. Namanya tidak ada dalam daftar penerima gelar yang dikeluarkan Sekretariat Negara. Dua hal ini perlu dibedakan agar tidak tertukar: popularitas dalam tradisi lokal tidak sama dengan penetapan gelar nasional.

Nama bandara dan keris di lambang kota

Nama Hang Nadim melekat pada Bandara Hang Nadim Batam atas pilihan BJ Habibie saat memimpin Otorita Batam. Pemilihan nama ini mencerminkan upaya mengaitkan identitas kota dengan sejarah Melayu di wilayah tersebut. Bandara sebagai pintu masuk utama Batam menjadi tempat nama itu paling sering dibaca dan diucapkan oleh pendatang maupun warga. Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh tentang bandara ini, tersedia ulasan di halaman bandara Hang Nadim dengan runway terpanjang di Indonesia.

Pengaitan Hang Nadim dengan identitas kota juga tampak pada lambang resmi. Keris Melayu dalam lambang Kota Batam dimaknai sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan Laksamana Hang Nadim. Makna ini tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 3 Tahun 2001. Dengan demikian, keris bukan sekadar ornamen. Ia menjadi penanda nilai yang ingin diwariskan kepada warga kota, yaitu keberanian dan semangat membela wilayah. Penjelasan lebih rinci mengenai unsur-unsur lambang dapat dibaca di halaman arti dan makna lambang Kota Batam.

Perlu dicatat bahwa makna keris dalam lambang bersumber dari peraturan daerah, sehingga pemahaman resmi kota tentang Hang Nadim berpijak pada dokumen hukum daerah, bukan pada pengakuan gelar nasional. Dua sumber ini saling melengkapi tetapi memiliki kedudukan yang berbeda.

Tanya jawab seputar Hang Nadim

Apakah Hang Nadim Pahlawan Nasional? Bukan. Hang Nadim tidak termasuk dalam daftar penerima gelar Pahlawan Nasional dari Sekretariat Negara. Ia dikenal sebagai laksamana Melayu yang memimpin perlawanan terhadap Portugis. Baca juga: Perpustakaan Kota Batam: Alamat, Cara Daftar Anggota Gratis, dan Aplikasi iBatam.

Apakah seluruh kisah Hang Nadim merupakan sejarah? Tidak. Sebagian kisahnya tercatat dalam sejarah, sedangkan sebagian lainnya berupa cerita rakyat yang terdapat dalam Sejarah Melayu. Keduanya perlu dibedakan saat membaca.

Di mana Hang Nadim memimpin perlawanan? Perlawanan dipimpin dari pangkalan di Bintan, setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, hingga sekitar 1526.

Siapa yang memilih nama Hang Nadim untuk bandara di Batam? Nama tersebut dipilih oleh BJ Habibie saat memimpin Otorita Batam.

Apa makna keris dalam lambang Kota Batam? Keris Melayu pada lambang Kota Batam melambangkan keberanian dan kepahlawanan Laksamana Hang Nadim, sebagaimana tercantum dalam Perda Kota Batam Nomor 3 Tahun 2001.

Baca juga seri Info Kota: Sejarah Batam: asal-usul nama hingga kota industri

Ringkasan

Hang Nadim adalah laksamana Kesultanan Melaka pada masa Sultan Mahmud Shah yang memimpin perlawanan terhadap Portugis dari Bintan setelah Melaka jatuh pada 1511, hingga sekitar 1526. Kisahnya tercatat dalam Sejarah Melayu, sebagian sebagai sejarah dan sebagian sebagai cerita rakyat. Ia bukan Pahlawan Nasional Indonesia. Namanya digunakan untuk Bandara Hang Nadim Batam atas pilihan BJ Habibie saat memimpin Otorita Batam, dan keris dalam lambang Kota Batam merujuk pada keberanian serta kepahlawanannya sebagaimana diatur dalam Perda Kota Batam Nomor 3 Tahun 2001.

Memahami sosok Hang Nadim berarti membaca dengan cermat: memisahkan catatan sejarah dari cerita yang hidup dalam tradisi, dan membedakan pengakuan nasional dari penghormatan lokal. Dengan cara itu, nama yang kini tertulis di bandara dan lambang kota dapat dipahami dengan lebih utuh oleh warga Batam dan para pengunjung.

Artikel ini disusun redaksi BATAM.co.id. Punya kabar, koreksi, atau usul liputan? Hubungi redaksi.