Minggu, 11 Oktober 2026 Maghrib 17:5727°C Berawan sebagian 1 SGD = Rp13.965

Info Kota

Alat Musik Tradisional Kepulauan Riau: Gambus, Marwas, Gendang Siantan, dan Lainnya

Reporter: Redaksi BATAM.co.id Editor: Redaksi BATAM.co.id Terbit 5 menit baca
Alat Musik Tradisional Kepulauan Riau: Gambus, Marwas, Gendang Siantan, dan Lainnya
Ilustrasi · Foto: Pexels

Fakta kunci

  • Ghazal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2013; alat musiknya antara lain harmonium, gambus, gendang, biola, dan tabla.
  • Musik Zapin Penyengat memakai gambus, marwas, akordeon, biola, dan gendang bebano.
  • Makyong diiringi ansambel rebab dan gendang.
  • Nama Joget Dangkong berasal dari bunyi gendang (dang) dan gong (kung); biola ditambahkan kemudian.
  • Teater Bangsawan (Warisan Budaya Takbenda 2015) diiringi biola, akordeon, gendang, gong, dan tambur.

Alat musik tradisional Melayu Kepulauan Riau antara lain gambus, marwas, gendang, gong, rebab, dan biola. Di antara alat dan kesenian itu, Gendang Siantan dari Kepulauan Anambas tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2014. Instrumen-instrumen ini dimainkan dalam zapin, ghazal, makyong, joget dangkong, teater bangsawan, dan tari inai, dan sebagian besar masih dipelajari serta dipentaskan di Kota Batam hingga kini.

Batam adalah kota di Provinsi Kepulauan Riau yang berada di jalur strategis, berdekatan dengan Singapura. Letak itu membuat Batam menjadi titik pertemuan berbagai pengaruh budaya, termasuk budaya Melayu yang sudah lama mengakar di pesisir dan pulau-pulau sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, musik tradisional sering terdengar di acara adat, perayaan keagamaan, dan festival budaya. Keberadaannya menjadi penanda identitas yang tetap dijaga di tengah pesatnya pembangunan kota.

Pemahaman tentang alat musik tradisional penting karena setiap instrumen memiliki fungsi dan peran dalam kesenian yang berbeda. Artikel ini merangkum alat-alat tersebut, kesenian tempat mereka dimainkan, serta upaya pelestariannya di Batam dan Kepulauan Riau.

Gendang Siantan dan Pengakuan Warisan Budaya

Gendang Siantan berasal dari Siantan, Kepulauan Anambas, dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2014 dengan nomor registrasi 201400112. Pengakuan ini menjadi bagian penting dari upaya pencatatan kekayaan budaya daerah di tingkat nasional.

Kesenian ini dimainkan dengan dua gendang panjang dan satu gong. Pada awalnya, Gendang Siantan digunakan untuk menyambut tamu terhormat. Fungsi penyambutan itu menunjukkan bahwa musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari tata krama dan adat masyarakat Melayu di kepulauan.

Keberadaan Gendang Siantan memperlihatkan bahwa Anambas memiliki tradisi musik sendiri yang berbeda dengan kesenian dari Pulau Penyengat maupun Batam. Keragaman inilah yang membuat Kepulauan Riau kaya akan ragam ekspresi budaya.

Alat Musik dan Ansambel dalam Kesenian Melayu Kepri

Tabel berikut merangkum alat musik yang disebutkan dalam sumber resmi beserta kesenian tempat alat tersebut digunakan.

Alat musikDipakai dalamCatatan
GambusMusik Zapin Penyengat; GhazalTermasuk alat utama dalam ansambel zapin dan ghazal
MarwasMusik Zapin PenyengatDimainkan bersama gambus dan gendang bebano
AkordeonMusik Zapin Penyengat; Teater BangsawanDitemukan pada dua kesenian berbeda
BiolaMusik Zapin Penyengat; Ghazal; Joget Dangkong; Teater BangsawanDitambahkan ke joget dangkong kemudian
Gendang bebanoMusik Zapin PenyengatGendang khas dalam ansambel zapin
GendangGendang Siantan; Ghazal; Makyong; Teater Bangsawan; Tari InaiHadir hampir di setiap kesenian yang disebutkan
GongGendang Siantan; Teater Bangsawan; Tari InaiNama joget dangkong juga berasal dari bunyinya
RebabMakyongMenjadi alat melodi dalam ansambel makyong
HarmoniumGhazalAlat musik khas ansambel ghazal
TablaGhazalMelengkapi ansambel ghazal bersama gambus dan biola
TamburTeater BangsawanDigunakan sebagai pelengkap ansambel bangsawan
KompangFestival Pulau PenyengatDipertandingkan dalam lomba kompang

Setiap kesenian memiliki susunan ansambel yang khas. Dalam zapin, ansambel Musik Zapin Penyengat memakai gambus, marwas, akordeon, biola, dan gendang bebano. Kombinasi ini membentuk irama yang mengiringi tarian zapin. Untuk tarian zapin dan tarian tradisional lainnya di Kepulauan Riau, pembaca dapat membuka artikel tari zapin dan tarian tradisional Kepulauan Riau. Lihat juga Perpustakaan Kota Batam: Alamat, Cara Daftar Anggota Gratis, dan Aplikasi iBatam untuk gambaran lebih luas.

Ghazal ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2013. Alat musiknya antara lain harmonium, gambus, gendang, biola, dan tabla. Perpaduan alat petik, alat gesek, dan perkusi ini menjadi ciri khas ghazal.

Makyong diiringi ansambel rebab dan gendang. Rebab memegang peran melodi, sedangkan gendang menjaga tempo dan suasana pertunjukan.

Joget dangkong memiliki nama yang berasal dari bunyi alat musiknya, yaitu “dang” dari gendang dan “kung” dari gong. Biola kemudian ditambahkan ke dalam ansambel ini.

Teater bangsawan yang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2015 diiringi biola, akordeon, gendang, gong, dan tambur. Ansambel ini menggabungkan unsur Melayu dengan alat musik yang lebih beragam.

Tari inai Kepri diiringi dua gendang dan satu gong. Susunannya sederhana, tetapi cukup untuk membangun irama tarian pengantin yang khas.

Keris Melayu pada Lambang Kota Batam

Dalam konteks senjata tradisional, Batam memiliki satu simbol yang secara resmi diatur, yaitu keris Melayu pada lambang Kota Batam. Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 3 Tahun 2001, keris tersebut melambangkan keberanian dan kepahlawanan Laksamana Hang Nadim. Penjelasan lebih lengkap mengenai bentuk dan makna lambang dapat dibaca di artikel lambang Kota Batam, arti dan maknanya.

Pelestarian Musik Tradisional di Batam dan Kepri

Upaya pelestarian musik tradisional di Kepulauan Riau berjalan melalui festival, pertunjukan, dan ruang pembelajaran. Festival Pulau Penyengat, misalnya, menampilkan lomba kompang sebagai bagian dari perayaan budaya Melayu.

Di Batam, Museum Batam Raja Ali Haji yang berlokasi di Dataran Engku Putri, Batam Centre, menjadi salah satu tempat untuk mengenal sejarah dan budaya lokal. Museum ini meraih sertifikat museum Tipe B pada 2021. Pengunjung yang ingin memahami latar sejarah kesenian Melayu dapat memanfaatkan museum ini sebagai rujukan awal. Baca juga: Baju Adat Melayu Kepulauan Riau: Teluk Belanga, Cekak Musang, Kebaya Labuh, dan Tudung Manto.

Pelestarian juga bergantung pada generasi muda yang bersedia mempelajari alat dan tariannya. Ketika gambus dipetik di sanggar, atau gendang ditabuh di acara adat, kesenian itu tetap hidup dan berkembang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa saja alat musik tradisional Kepulauan Riau? Alat musik yang disebutkan antara lain gambus, marwas, gendang, gong, rebab, dan biola. Alat lain seperti harmonium, tabla, akordeon, gendang bebano, dan tambur juga digunakan dalam kesenian tertentu.

Kapan Gendang Siantan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda? Gendang Siantan ditetapkan pada 2014 dengan nomor registrasi 201400112.

Dari mana asal Gendang Siantan? Gendang Siantan berasal dari Siantan, Kepulauan Anambas.

Apa arti keris pada lambang Kota Batam? Keris Melayu pada lambang Kota Batam melambangkan keberanian dan kepahlawanan Laksamana Hang Nadim, sesuai Perda Kota Batam Nomor 3 Tahun 2001.

Mengapa nama joget dangkong terdengar seperti bunyi alat musik? Nama tersebut berasal dari bunyi gendang (“dang”) dan gong (“kung”). Biola ditambahkan ke dalam ansambel joget dangkong kemudian.

Penutup

Gambus, marwas, gendang, gong, rebab, biola, dan alat musik lainnya membentuk lanskap bunyi Melayu Kepulauan Riau. Dari Gendang Siantan di Anambas hingga zapin, ghazal, makyong, joget dangkong, bangsawan, dan tari inai, setiap kesenian menyimpan cara tersendiri dalam mengolah irama dan fungsi sosialnya. Dengan memahami peran setiap alat, pembaca dapat melihat bagaimana musik tradisional menjadi bagian dari identitas daerah yang terus dijaga bersama.

Artikel ini disusun redaksi BATAM.co.id. Punya kabar, koreksi, atau usul liputan? Hubungi redaksi.